Jadilah diri sendiri; Diri orang lain sudah ada yang memiliki.
— Oscar Wilde.
Inilah pos pertama di blog baru saya. Saya baru saja memulai blog baru ini, jadi ikuti terus untuk melihat konten lainnya. Berlangganan di bawah untuk mendapatkan pemberitahuan ketika saya mengeposkan pembaruan terbaru.
Teruntuk kita millenial, khususnya para penggiat bidang pendidikan tentu harus paham betul mengenai perkembangan pendidikan dan substansi apa saja di dalamnya. Termasuk yang sedang booming, yaitu dilantiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 2019-2024, yaitu Mr. Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. yang juga merupakan seorang pengusaha muda bertalenta. Nah Mr. Nadiem sudah membuat rancangan pendidikan baru untuk kedepannya, yuk kita simak apa saja isinya.
___
Ikatan Guru Indonesia bersama 22 organisasi guru dan komunitas guru diundang khusus Mendikbud Nadiem tanggal 4 November 2019. Nadiem membuka pembicaraan dengan meminta seluruh undangan tidak mengangkat masalah tapi memberikan solusi. Dan inilah yang diajukan:
1. Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan Pendidikan Karakter berbasis agama dan pancasila menjadi mata pelajaran utama di Sekolah Dasar dan karena itu, Pembelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMA dihapuskan karena seharusnya sudah dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke percakapan, bukan tata bahasa.
2. Jumlah Mata Pelajaran di SMP menjadi maksimal 5 mata pelajaran dengan basis utama pembelajaran pada Coding dan di SMA menjadi maksimal 6 mapel tanpa penjurusan lagi mereka yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilahkan memilih SMK.
3. SMK karena fokus pada keahlian maka harus menggunakan sistem SKS, mereka yang lebih cepat ahli bisa menuntaskan SMK dua tahun atau kurang, sementara mereka yang lambat bisa saja sampai 4 tahun dan ujian kelulusan SMK pada keahliannya bukan pada pelajaran normatif dan adaptif. SMK tidak boleh kalah dari BLK yang hanya 3, 6 atau 12 bulan saja. LPTK diwajibkan menyediakan Sarjana Pendidikan atau Alumni PPG yang dibutuhkan SMK.
4. Jabatan Pengawas Sekolah dihapuskan hingga jumlah guru yang dibutuhkan mencukupi. Jabatan pengawas sekolah boleh diadakan kembali jika jumlah kebutuhan guru sudah terpenuhi, tidak ada lagi guru honorer dan semua guru sudah berstatus PNS atau Guru Tenaga Kontrak Profesional dalam Status PPPK dengan pendapatan minimal setara Upah minimum yang ditetapkan pemerintah sesuai standar kelayakan hidup. Hilangnya tanggungjawab mengajar kepada kepala sekolah seharusnya dimaksimalkan fungsinya sehingga keberadaan pengawas sekolah untuk sementara bisa diabaikan.
5. Seluruh beban administrasi guru dibuat dalam jaringan (online) dan lebih disederhanakan, RPP cukup 1-2 halaman tapi jelas tujuan dan aplikasi pembelajarannya, tak ada lagi berkas administrasi dalam bentuk “hard copy”, verifikasi keaslian dilakukan secara acak dengan kewajiban menunjukkan berkas asli, bukan Foto Copy.
6. Pengangkatan Guru berdasakan kompetensi dan kebutuhan kurikulum yang nantinya dibuat. Uji Komptensi Guru wajib dilaksanakan minimal sekali dalam 3 (tiga tahun)
7. Sistem Honorer dihapuskan sehingga tak ada lagi guru yang mengisi ruang kelas yang statusnya tidak jelas, harus jelas statusnya, apakah PNS, PPPK atau GTY. Pendapatan Guru minimal mencapai Upah Minimum yang ditetapkan pemerintah berdasarkan minimal kelayakan hidup.
8. Jika kurikulum diubah, maka bimtek harus ditiadakan dan diganti dengan vidoe tutorial dengan kewajiban uji secara acak terhadap pemahaman kurikulum. Anggaran bimtek dialihkan untuk rekruitmen guru
9. Anggaran Peningkatan Kompetensi guru dihapuskan dan upaya peningkatan kompetensi guru diserahkan kepada organsiasi profesi guru berdasarkan acuan kompetensi yang dibutuhkan. Anggaran Pelatihan Guru dialihkan untuk rekruitmen guru. Organisasi profesi guru diberikan legalitas dalam melaksanakan upaya peningkatan kompetensi guru, pemerintah cukup melakukan uji terhadap standar kompetensi guru yang diinginkan. Organisasi profesi guru harus segera mendapatkan pengesahan setelah melalui verifikasi dan sepenuhnya pembinaan guru diserahkan kepada organisasi profesi guru dalam pengawasan Pemerintah.
10. Mengatur kembali penentuan “sekolah daerah tertinggal-terpencil-terdepan-terkebelakang sesuai kondisi sekolah, bukan berdasarkan data kemendes
Kesepuluh upaya tersebut kebanyakan mendapatkan respon positif dari netizen.
Literasi adalah kegiatan yang sedang dan terus digerakkan untuk meningkatkan kemampuan literasi Indonesia yang menuju revolusi industri 4.0.
Sejak tahun 2015, kita menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kemudian kurun 2017-2018 awal kita dihadapkan dengan era disruption (disrupsi) yang mengharuskan masyarakat konversi dari dunia manual menuju digital. Era disrupsi atau ketercerabutan ini mengharuskan masyarakat melek literasi, mulai dari aspek membaca, menulis, dan matematika juga kemampuan menggunakan media digital.
Mulai sejak 2018, tantangan bangsa ini yang direspon baik oleh Kemristekdikti adalah Era Revolusi Industri 4.0. Di era ini, masyarakat didorong untuk menguasai “literasi baru” yang di dalamnya ada unsur tambahan dari literasi lama.
Masalahnya, dalam kajian literasi, kategori masyarat literat digolongkan ke dalam tiga bagian, praliterasi, literasi, dan pascaliterasi. Namun, dari data yang ada, masyarakat kita masih dalam tahap literasi. Jika dipaksa untuk menyongsong era literasi baru, maka mereka pasti akan terseok-seok.
Dalam Rapat Kerja Nasional Kemenristek Dikti 2018, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristek Dikti menyampaikan mengenai beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan sebuah perguruan tinggi untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Kemampuan yang harus dimiliki dan diajarkan pada kurikulum perguruan tinggi salah satunya adalah literasi data. Selain literasi data, literasi baru juga mengharuskan literasi teknologi dan SDM.
Munculnya era literasi baru tidak lepas dari era revolusi industri 4.0. Kondisi ini, adalah era dunia industri digital telah menjadi suatu paradigma dan acuan dalam tatanan kehidupan saat ini. Era revolusi industri 4.0 hadir bersamaan dengan era disrupsi yang sejak tahun 2017 mulai direspon serius kalangan terdidik.
Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 atau era disrupsi diperlukan “literasi baru” selain literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini digunakan sebagai modal untuk berkiprah di kehidupan masyarakat. Literasi data, teknologi, dan SDM harus direspon pendidikan tinggi yang bisa dimasukkan ke dalam pembelajaran.
Ada 3 konsep literasi
Pertama, literasi data harus fokus dalam membaca data, menulis data, dan mengarsipkan data. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat), data adalah ruh. Maksudnya, data harus dipahami luas, tidak hanya kuantitatif, namun juga kualitatif.
Bahkan, informasi saja dalam makna luas sudah termasuk data. Maka dari itu, literasi data ini harus benar-benar dikuatkan melalui pilar literasi di atas. Jangan sampai ada karya ilmiah tanpa data, bahkan data “abal-abal” karena dalam karya ilmiah, data adalah ruh.
Dalam literasi ini, semua akademisi, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, peneliti, harus berkiblat pada doktrin ilmuwan. Artinya, ilmuwan boleh salah, namun tidak boleh bohong. Maka dalam penyajian data, dilarang melakukan plagiasi, duplikasi, falsifikasi (pemalsuan), dan pabrikasi (pemabrikan data) untuk mendukung penelitiannya. Di sinilah, literasi data yang penting karena tidak ada karya ilmiah tanpa data, kaitannya dengan kurikulum baru persiapan yang menyeluruh akan mendukung hadirnya kurikulum baru yang berbasis teknologi digital, dengan penggunaan teknologi digital diperlukan juga kemampuan literasi yang mumpuni dan berkualitas untuk mengimbanginya.
Kedua, literasi teknologi. Pertanyaan dasar, di zaman sekarang, siapa yang bisa hidup tanpa teknologi? Hampir semua orang di Indonesia mengonsumsi internet. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia tahun 2016, yaitu 132,7 juta orang. Kemudian ada peningkatan jumlah pengguna internet Indonesia menjadi 143,26 juta pada 2017. Berdasarkan kategori usia, sebanyak 16,68 persen pengguna berusia 13-18 tahun dan 49,52 persen berusia 19-34 tahun (Kompas.com, 19/2/2018).
Data ini sangat berdampak positif, namun juga bisa menjadi indikasi negatif. Sebab, jika informasi yang dikonsumsi pemuda bahkan anak-anak kebanyakan dari internet, maka akurasi informasi bahkan pengetahuan yang didapat masih akurat media cetak. Literasi teknologi ini adalah tindaklanjut dari literasi digital yang menekankan pentingnya pengenalan media siber, media sosial, layanan pesan yang harus dipilah serta dipilih.
Inti dari literasi teknologi adalah pengembangan ilmu pengetahuan, penerapan pilar literasi dari konvensional menuju digital dengan ruh melek, dan ramah dalam membaca, menulis, dan menyebarkan informasi. Jangan sampai informasi dan pengetahuan yang dilahirkan dan dibagikan kaum akademisi berisi hoax, fake, bahkan berunsur SARA serta cyberbullying.
Jika ditarik ke teknis pembelajaran dan perkuliahan, literasi teknologi bisa dimasukkan ke dalam semua mapel yang dapat menggunakan komputer, matakuliah Aplikasi Komputer, Multimedia Pembelajaran, Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), Bahasa Indonesia Dasar dan Lanjutan, Karya Tulis Ilmiah, Pembelajaran Literasi dan lainnya. Semua matakuliah itu, profil lulusan, capaian pembelajarannya harus berorientasi pada teknologi, siber, dalam jaringan (daring), dan online.
Ketiga, literasi SDM(Sumber Daya Manusia) Literasi ini menjadi akhir dari literasi data dan teknologi. Sebab, sekolah maupun perguruan tinggi dalam menyambut Era Revolusi Industri 4.0 ini diharuskan mencetak generasi yang melek literasi data dan teknologi. Artinya, profil lulusan sebuah sekolah maupun program studi di kampus harus sesuai dengan learning outcomes sampai diturunkan kepada mata pelajaran dan matakuliah yang bisa menjawab tantangan zaman.
Adanya pengangguran menjamur bukan karena tinggi pendidikannya, melainkan relevansi profil lulusan dengan kebutuhan zaman. Jika zaman sekarang adalah era siber, disrupsi dan Era Revolusi Industri 4.0, maka kompetensinya juga tidak boleh manual, kuno, apalagi primitif. Oleh karena itu, tiga literasi baru di atas harus menjadi rumusan kurikulum di semua sekolah dan perguruan tinggi jika menginginkan lulusannya bisa menjawab tantangan zaman.
Oleh Dr. Hidayat, dalam diskusi online rutin Komunitas Media Pembelajaran Taman Guru Belajar (Rabu, 27 November 2019).
Ini adalah contoh pos yang aslinya dipublikasikan sebagai bagian dari Blogging University. Ikuti salah satu dari sepuluh program kami, dan mulai buat blog dengan tepat.
Anda akan memublikasikan pos hari ini. Jangan khawatir dengan tampilan blog Anda. Jangan khawatir jika Anda belum memberinya nama, atau merasa bingung. Cukup klik tombol “Pos Baru”, dan beri tahu kami apa yang ingin Anda lakukan di sini.
Mengapa harus melakukannya?
Karena ini memberikan konteks kepada pembaca baru. Apa fokus Anda? Mengapa mereka harus membaca blog Anda?
Karena ini akan membantu Anda fokus pada gagasan Anda sendiri mengenai blog ini dan yang ingin Anda lakukan di dalamnya.
Posnya bisa singkat atau panjang, pengantar personal mengenai kehidupan Anda atau pernyataan misi blog, sebuah manifesto untuk masa depan, atau garis besar sederhana tentang hal yang ingin Anda publikasikan.
Berikut ini beberapa pertanyaan untuk membantu Anda memulai:
Mengapa Anda memilih untuk menulis blog secara publik daripada menulis jurnal pribadi?
Topik apa yang ingin Anda tulis?
Siapa yang ingin Anda jangkau melalui blog Anda?
Jika Anda berhasil menulis blog dengan lancar sepanjang tahun depan, apa yang ingin Anda raih?
Tidak ada yang mengikat Anda. Salah satu hal yang menakjubkan tentang blog adalah perubahannya yang terus menerus seiring kita belajar, tumbuh, dan berinteraksi satu sama lain. Namun Anda sebaiknya mengetahui tempat dan alasan memulai, dan mengartikulasikan target Anda mungkin dapat memberikan beberapa ide lain untuk pos Anda.
Tidak tahu cara memulai? Tuliskan saja hal pertama yang muncul di kepala. Anne Lamott, pengarang buku tentang menulis yang kita suka, berkata bahwa Anda harus merelakan diri untuk menulis “konsep pertama yang jelek”. Tidak usah malu. Apa yang dikatakan Anne sangat bagus — mulai menulis saja dulu, dan sunting nanti jika tulisan sudah selesai.
Saat sudah siap memublikasikan, berikan tiga sampai lima tag pada pos yang menjelaskan fokus blog Anda, apakah itu tentang menulis, fotografi, fiksi, pengasuhan anak, makanan, mobil, film, olahraga, apa saja. Tag ini akan memudahkan orang lain yang tertarik dengan topik Anda menemukan Anda di Pembaca. Pastikan salah satu tagnya “zerotohero” agar blogger baru lainnya dapat menemukan Anda juga.